MR SARTONO, BAPAK PARLEMEN INDONESIA
September 9, 2009
KORUPSI UNTUK KAMPANYE PEMILU
February 16, 2009
Pemilu di Republik ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 1955. Jumlah partai pengikut Pemilu lebih dari 30 partai. Mulai dari partai kelompok perorangan seperti Sarsadi. dkk.yang berlambang gambar kendi, sampai dengan partai yang bermassa besar seperti PNI yang berlambang kepala banteng dalam segitiga, dan Masyumi dengan bulan sabitnya.
Pada masa itu belum ada televisi. Kampanye diadakan hanya dengan cara memasang tanda gambar partai ditempat tempat strategis, ceramah. dan pawai. Walaupun biaya kampanye tidak sebesar sekarang, namun partai partai tersebut tetap memerlukan adanya dana kampanye. Dana tersebut kebanyakan dikumpulkan dari para anggauta dan simpatisan partai yang sangat bersemangat memenangkan partai mereka masing masing. Namun ada satu partai yang bernama PRN, yang menurut ingatan saya berlambang padi dan kapas, menempuh jalan korupsi untuk meraih dana partai.
Kisah ini diawali pada tahun 1954. Portofolio Menteri Kehakiman saat itu dijabat oleh Mr Djodi Gondokoesoemo , yang juga bertindak sebagai pimpinan Partai Rakyat Nasional ( PRN ). Kementerian Kehakiman membawahi jawatan Immigrasi , yang wewenangnya antara lain memberikan visa bagi orang asing yang akan tinggal di Indonesia. Pada suatu waktu Mr Djody telah memberikan perpanjangan visa kepada seorang yang bernama Bong Kim Tjong.
Seorang anggauta parlemen dari partai PSI dibawah kepemimpinan Sutan Syahrir yang bernama Tan Po Goean , curiga kalau pemberian visa tersebut tidak wajar. Ia melakukan investigasi dengan cara membeli informasi dan bukti bukti yang terkait dengan kasus tersebut. Ia sempat mengeluarkan uang Rp 6000 untuk mendapatkan bukti bukti tersebut. Ia kegirangan waktu menemukan selembar kuitansi sebesar Rp 20.000 yang ditanda tangani oleh Djodi di berkas permohonan visa Bong Kim Tjong. Kuitansi menyebutkan kalau uang tersebut sebagai sokongan pemohon visa untuk PRN.
Merasa kuat dengan bukti bukti tersebut, Tan Po Goean yang juga mantan menteri di kabinet Syahrir, langsung melapor pada Jaksa Agung Suprapto. (Patungnya sekarang berdiri didepan kantor Kejaksaan Agung). Iapun memberikan perintah menangkap Mr Djodi untuk diadili. Dalam persidangan terungkap bahwa memang PRN menghimpun dana melalui cara penyalah gunaan pemberian visa terutama untuk orang Tionghoa dan India. Tetapi terdakwa menyangkal kalau uang tersebut untuk dia pribadi.
Pengadilan memvonnis Mr Djodi dengan pidana satu tahun penjara. Terdakwa mengajukan grasi kepada Presiden Sukarno, dan hukumannya dikurangi enam bulan. Konon Wakil Presiden Mohammad Hatta kurang setuju dengan pemberian grasi tersebut. Barangkali beliau beranggapan bahwa perbuatan korupsi merupakan perbuatan yang tidak layak diampuni.
Penulis : Daradjadi
Sumber : Penelitian Google dan Ingatan masa lalu
SEKOLAH GRATIS ? PERNAH TERJADI DI INDONESIA
January 29, 2009
LASKAR CHINA DAN PRIBUMI MELAWAN VOC 1740 -1743
January 23, 2009
Pada bulan Oktober 1740 terjadi kerusuhan rasialis di Batavia. Sekitar 10.000 orang China dibantai oleh VOC. Alasan Kompeni melakukan hal tersebut karena orang orang China dianggap telah membangkang untuk membayar berbagai pungutan yang mencekik. Di saat ribuan mayat bergelimpangan di sungai sepanjang Kali Besar dan rumah rumah China hangus menjadi abu, di suatu pabrik gula yang terletak di Gandaria terlihat suatu kerumunan massa. Mereka bersenjata seadanya namun mempunyai semangat yang tinggi . Pimpinan gerombolan bersenjata tersebut oleh sumber dan arsip Kompeni dikenal dengan nama Khe Panjang. Sebutan ” Khe ” menunjukkan bahwa orang tersebut belum lama tiba dari Tiongkok.
Dari Gandaria pasukan bergerak ke Tanah Abang dan melakukan serangan ke pos pos Belanda. Namun pasukan pemberontak China tersebut dapat dihalau oleh VOC hingga lari kearah Bekasi dan Kerawang. Walau terus dikejar oleh serdadu Kompeni jumlah mereka makin bertambah karena banyaknya orang yang menggabungkan diri. Akhirnya pada paroh pertama tahun 1741 pasukan pemberontak tersebut memasuki wilayah kerajaan Mataram yang beribukota di Kartasura .Keratonnya terletak 10 km dari kota Solo sekarang. Kerajaan yang wilayahnya meliputi Jawa bagian Tengah dan Timur tersebut diperintah oleh seorang raja yang bernama Paku Buwono II ( PB II ). Raja beserta rakyat Mataram menyambut baik kedatangan pasukan China ini. Orang orang Jawa menyebut pemimpin laskar China ini dengan nama Kapitan Sepanjang.
Rakyat Mataram dan rajanya sebetulnya sudah lama ingin lepas dari kekuasaan VOC, namun belum berani melakukan tindakan apapun karena merasa belum mempunyai kekuatan yang meyakinkan. PB II melihat kedatangan pasukan China merupakan kesempatan yang baik untuk melaksanakan niatnya . Sang raja melakukan koalisi dengan Sepanjang. Pada tanggal 1 Agustus 1742 Benteng VOC di Kartasura diserbu pasukan gabungan China-Mataram. Kapten Van Plasen, komandan Benteng tewas dieksekusi. para serdadu VOC yang hidup dijadikan tawanan. Pasukan China- Mataram memperluas serangan ke segala penjuru , mulai dari Tegal , Lasem sampai Gresik . Karena kewalahan menghadapi serangan serangan tersebut, maka VOC mendatangkan pasukan bantuan dari Batavia. Berkat bantuan pasukan dan persenjataan yang tiba, maka laskar China dibawah Sepanjang dan pasukan Mataram dibawah pimpinan Bupati Grobogan Martapura mengalami kekalahan di desa Kaligawe Semarang.
Merasa diatas angin , Kompeni memberikan ultimatum kepada PB II. Raja yang bertahta di Kartasura tersebut disuruh milih. Kalau berbalik ikut Kompeni maka kepadanya akan diberi pengampunan dan dijamin kelangsungan kedudukannya sebagai raja. Sedangkan kalau tetap membantu pasukan China maka beliau akan dihabisi. Sang raja PB II memilih berbalik dan membantu VOC melawan laskar China. Patih kerajaan yang bernama Notokusumo dan para bupati menentang putusan rajanya. Notokusumo ditangkap Belanda dibuang ke Sri Langka. Para Bupati beserta rakyatnya tetap meneruskan perjuangan mereka melawan Belanda . Pada pertengahan tahun 1742 diadakan suatu pertemuan yang dihadiri antara lain oleh Bupati Martapura, Bupati Mangunoneng, Kapitan Sepanjang dan Panglima laskar China Singseh ( Tan Sin Ko ). Mereka bersepakat mengangkat Rd Mas Garendi cucu Amangkurat III sebagai raja Mataram . Raja Baru tersebut selanjutnya bergelar Amangkurat V dan terkenal dengan sebutan Sunan Kuning.
Pasukan Sunan Kuning yang terdiri dari para bupati yang tetap memberontak pada kekuasaan VOC bersama dengan laskar China akhirnya bergerak menuju Kartasura. Ibukota Mataram jatuh dalam kekuasaan mereka. PB II lari ke Ponorogo. Raden Mas Said , cucu Amangkurat IV yang juga mengobarkan perlawanan terhadap VOC diangkat oleh Sunan Kuning sebagai panglima perangnya. Segera setelah Kartasura jatuh, Sunan Kuning ingin mewujudkan cita citanya untuk mengusir VOC. Api peperangan yang dahsyat berkobar di seluruh Jawa Tengah dan Timur.Beliau mengirim R.M. Said bersama pasukan China menyerang pasukan VOC dibawah Kapten Geritt Mom yang berada di Jepara. Singseh,komandan pasukan China gugur dipenggal kepalanya oleh serdadu VOC di pantai Lasem . Belanda tidak mau meninggalkan kesempatan. Mereka terus mendesak pasukan Sunan Kuning dari arah Semarang. Sedangkan dari arah timur Keraton Kartasura diserang oleh tentara PB II dan pasukan Madura. Akhirnya pada bulan Desember 1742 Keraton Kartasura kembali dikuasai PB II yang dibantu Kompeni.
Sunan Kuning bersama Raden Mas Said dan Sepanjang meninggalkan keraton dan membangun pertahanan di desa Randulawang yang terletak disekitar Candi Prambanan. Dari tempat tersebut pasukan gabungan China-Mataram melancarkan serangan gerilya ke pos pos pertahanan Belanda. Akirnya Belanda mengerahkan semua kekuatannya untuk menghancurkan Randulawang. Sunan Kuning bersama panglima R.M Said dan Sepanjang bergerak menuju kearah timur bersama sisa sisa pasukannya.
Sampai di desa Caruban Madiun, Sepanjang bersama Sunan Kuning berniat untuk menuju ke Pasuruan guna merekrut orang orang China yang berada disana. Sampai di sekitar Surabaya ,Sunan Kuning- Sepanjang bergabung dengan pasukan Mas Brahim ,cucu Untung Surapati yang bergerilya di sekitar Surabaya dan Pasuruan. Sedangkan R.M Said tetap memimpin gerilya di sekitar Jawa Tengah. VOC berhasil menangkap Sunan Kuning di Surabaya, dan diasingkan ke Sri Langka. Sedang Sepanjang berhasil lolos dan melarikan diri kearah timur. Sejak itu Sepanjang lenyap bagai ditelan bumi. Kompeni tidak pernah berhasil menangkap atau membunuhnya. Dia terakhir tampak dilihat orang pada tahun 1758 di Bali.
Perang Sepanjang yang berlangsung selama tiga tahun merupakan perang yang terbesar yang harus di hadapi VOC di bumi Nusantara. Cakupan geografisnya meliputi seluruh Jawa. Dimulai dari Batavia dan berakir di ujung timur Jawa. R.M Said kelak pada tahun 1757 mengadakan perjanjian dengan Paku Buwono III . Beliau memimpin suatu praja dengan gelar Mangkunegoro I. Atas jasa kepahlawanannya dalam melawan penjajahan, pada tahun 1978 Pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Kemerdekaan RI kepada almarhum.
Kepada para keturunan Laskar Sepanjang kami mengucapkan ” Gong Xi Fa Cai ” Selamat Tahun Baru Imlek 2560. Semoga jiwa kepahlawanan dan pengorbanan Sepanjang tetap bersemayam di hati anda semua.
Sumber : “Perang Sepanjang 1740 – 1743, Tionghoa- Jawa lawan VOC ” oleh : Daradjadi
PERSELINGKUHAN DI KERATON KARTASURA
December 13, 2008
Raja Amangkurat IV , raja yang memerintah kerajaan Mataram yang beribukota di Kartasura wafat pada tahun 1726. Beliau meninggalkan beberapa orang putera. Putera pertama lahir bukan dari seorang permaisuri . Ia bernama Pangeran Mangkunegoro. Adapun putera yang menggantikan Sang Raja adalah putera yang dilahirkan oleh permaisuri dan bergelar Pakubuwono II. Walaupun tidak terpilih menjadi raja, Pangeran Mangkunegoro mempunyai pengaruh yang besar di lingkungan rakyatnya. Ia pernah melakukan perlawanan terhadap VOC bersama Pangeran Purboyo. Paman yang merupakan bapak angkatnya.
Pada suatu hari ia menonton pertunjukan tari bedaya di istana. Hatinya terpikat pada seorang penari yang bernama Wirasmara. Seorang keturunan China. Selang beberapa lama ia bertutur pada patih kerajaan yang bernama Danurejo, bahwa ia ingin mempersunting si penari tersebut menjadi isterinya. Sebagai pengganti isterinya yang telah meninggal . Wirasmara sebetulnya merupakan selir dari raja Pakubuwono II tetapi hal ini tidak diketahui oleh sang Pangeran. Mendengar pernyataan Pangeran Mangkunegoro tersebut, Danurejo melaporkan pada ibu suri Ratu Amangkurat, ibu kandung sang raja. Ratu Amangkurat dan Danurejo mempunyai pandangan politik yang sama, yaitu ingin mengenyahkan Pangeran Mangkunegoro. Keduanya beranggapan Mangkunegoro mempunyai potensi yang besar untuk melakukan perebutan kekuasaan.
Ratu Amangkurat menyampaikan peristiwa perselingkuhan ini pada sang raja. Beliau sangat marah dan menyuruh Danurejo agar Pangeran Mangkunegoro diserahkan pada Kompeni dengan tuduhan akan membangun kembali perlawanannya terhadap Kompeni. Danurejo dengan sigap menyeret Wirasmara ke rumahnya dan menikam si penari yang malang tersebut sampai tewas. Setelah itu ia merantai Pangeran Mangkunegoro dan menyerahkannya ke benteng VOC . Pangeran Mangkunegoro oleh VOC dibuang ke Afrika Selatan dan meninggal disana.
Sementara itu Ratu Amangkurat mempunyai seorang guru yang bernama Raden Surowijoyo. Hampir setiap malam ia mengajar sang ratu tentang sejarah dan ketatanegaraan. Guru yang sering sampai larut malam berada di kediaman ratu Amangkurat menimbulkan gossip yang tidak sedap. Maklum usia Ratu Amangkurat pada waktu itu masih tergolong belum tua. Gosip ini sampai ke telinga Pakubuwono II. Beliau yang sangat menjunjung tinggi moralitas agama sangat terganggu dengan gosip ini. Akhirnya sang raja menyuruh Patih Danurejo menghabisi Raden Surowijoyo. Suatu pagi masyarakat Kartasura dikejutkan adanya mayat Raden Surowijoyo yang tergeletak di alun alun dengan keris yang masih tertancap. Pada waktu keris tersebut dicabut oleh petugas istana, patih Danurejo buru buru datang untuk mengambil kerisnya. Ratu Amangkuratpun paham siapa pembunuh orang yang disayanginya. Persekutuan diantara keduanya pecah.
Sejak itu ratu Amangkurat selalu mencari cari kesalahan Danurejo dan melaporkannya pada raja. Pakubuwono II terkenal sangat dekat dengan ibundanya. Hampir semua nasehat tentang jalannya pemerintahan diikuti dengan patuh. Akhirnya pada tahun 1733 sang raja Pakubuwono II minta pertolongan Kompeni agar menangkap patih Danurejo pada saat pergi ke Semarang. Oleh VOC patih Danurejo dibuang ke Afrika Selatan sampai meninggal. Tempat pembuangan yang sama dengan musuhnya yaitu Pangeran Mangkunegoro.
penulis : Daradjadi, sumber
erang Sepanjang 1740-1743, Tionghoa-Jawa lawan VOC
PERMAINAN JAMURAN
December 8, 2008
Hampir semua permainan memberi pengaruh kejiwaan pada anak anak. Contohnya : Permainan Jamuran. Dimasa lalu dikala orang belum mengenal TV dan video game, di daerah Surakarta anak anak kecil sering melakukan permainan tersebut. Permainan diawali dengan tampilnya sekitar 10 anak atau lebih yang bergandeng tangan membentuk lingkaran. Ditengah lingkaran berdiri seorang anak. Lingkaran tersebut bergerak memutar sambil melantunkan tembang ” Jamuran “, dengan tetap dalam posisi berpegangan tangan. Pada waktu tembang tersebut berakhir , anak yang berada ditengah lingkaran akan ditanya : Milih jamur apa ?. Umpama si anak menjawab : Jamur jambu ! maka semua peserta akan berhamburan menyentuh pohon jambu yang berada didekat mereka. Selesai menyentuh pohon tersebut, anak anakpun bergegas kembali ketempat permainan untuk bergandeng tangan dan membentuk lingkaran. Anak terakhir yang tidak mendapatkan gandengan akan mendapat hukuman dengan cara disuruh berdiri di tengah lingkaran. Babak baru permainan dimulai lagi seperti diatas.
Permainan ini mengajarkan agar anak anak tidak bersifat eksklusif dan diskriminatif. Mereka yang terlalu memilih teman gandengan akan akan terlambat membentuk mata rantai. Akibatnya anak tersebut akan dikucilkan dan harus berdiri ditengah lingkaran sendirian. Jamuran biasanya dimainkan disaat bulan purnama. Sambil melantunkan tembang anak anak menengadah ke langit memandang ke angkasa raya. Secara tidak langsung mereka diajari untuk meresapi kebesaran Tuhan. Selain juga ditumbuhkannya rasa kesadaran untuk saling mengasihi dan rukun terhadap sesamanya. Tetapi jaman harus berobah. Permainan jamuran secara perlahan menghilang. Jamuran menghilang untuk memberi kesempatan video game muncul dengan segala hiruk pikuknya. Anak anak tidak lagi mengagumi indahnya angkasa raya. Merekapun jarang bergandeng tangan dengan teman temannya.
Hello world!
December 6, 2008
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!









