Tanggal 15 Juli 1945 diruangan gedung Chuo Sangi In yang terletak di Jalan Pejambon Jakarta berlangsung perdebatan panas. Saat itu berkumpul sekitar 62 orang anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Mereka sedang berembuk tentang apa dan bagaimana negara yang ingin mereka dirikan. Suhu udara sidang lanjutan yang berlangsung sejak pukul 15.10 tersebut tidak melunturkan semangat bicara mereka. Terutama bagi dua orang anggota yang bernama A.R Baswedan dan Liem Koen Hian. Keduanya meradang akibat  pasal 26 dalam Rencana Undang-Undang Dasar yang sedang disusun.  Dalam pasal tersebut secara nyata dibedakan antara warga negara aseli dan bukan aseli, dan kedua anggota BPUPKI tersebut merasa terhina karena tidak dimasukan dalam katagori warga negara dari suatu bangsa yang hendak didirikan. Mereka merasa sebagai bangsa Indonesia walau menyandang nama asing. Karena sidang tetap mengesahkan ketentuan pasal tersebut maka esok harinya Liem Koen Hian membuat surat pengunduran diri dari keanggotaan BPUPKI. Katanya “ Dengan diterima baiknya Bab IX pasal 26 dari rancangan oendang oendang dasar, maka status dari saya dan orang yang bukan bangsa Indonesia aseli adalah status dari orang asing ………….. dan sebagai itu tidak selayaknya saya turut duduk dalam BPUPKI ……”

Kerawanan pasal 26 tersebut sebetulnya sudah terbaca oleh Mr Sartono anggota BPUPKI yang membidangi Rancangan Hukum Dasar. Pada sidang tanggal 11 Juli, sewaktu pimpinan sidang Ir Soekarno berucap : sekarang kita bicara soal kewarganegaraan !” Satu-satunya anggota yang menanggapi masalah ini hanya Sartono dengan mengucapkan “Ini soal penting sekali sebab ini yang dinanti nantikan oleh golongan peranakan dan golongan lain ……” Tampaknya Sartono ingin menganalogkan kewarganegaraan dengan kebijakan partai Gerindo. Partai dimana ia pernah duduk sebagai salah satu pimpinannya. Gerindo adalah partai yang pertama menerima para golongan keturunan asing sebagai anggota penuh, dan menganggap semua orang yang lahir di Indonesia adalah warga negara Indonesia. Mereka adalah warga negara aseli.

Konsep Sartono/Gerindo ini tidak dapat terujud. Orang keturunan asing tetap dianggap sebagai “Bukan Aseli” sehingga mereka yang ingin menjadi Presiden RI harus menanggalkan cita-citanya. Istilah “Warga Negara Aseli” dibiarkan menggelantung tanpa kepastian. Dalam Penataran P4 waktu dulu selalu dikatakan bahwa yang disebut “Aseli” atau bukan tergantung pada pengakuan masyarakat. Celakanya lagi secara legal setiap kelahiran anak bangsa ini sudah disekat oleh diskriminasi primordial. Hal ini tampak jelas dalam Catatan Sipil tentang kelahiran seorang anak. Apabila seorang WNI keturunan Tionghoa melahirkan , maka  anaknya tersebut akan dicatat sebagai seorang WNI berdasarkan Staatblad 1917, yaitu catatan khusus untuk golongan Tionghoa. Dengan demikian setiap anak yang  menunjukkan akte kelahirannya  dengan mudah dapat diidentifikasi kelompok primordial mana mereka berasal. Kalau tercatat berdasarkan Staatblad 1920, menunjukkan mereka berasal dari bumiputera beragama Islam. Sedang staatblad 1933 khusus bagi orang Bumiputera yang beragama Kristen.

Cita cita AR Baswedan, Liem Koen Hian, dan Sartono agak terobati dengan lahirnya Undang-Undang Kewarganegaraan no 12 tahun 2006. Enam puluh satu tahun sejak ketiga tokoh pejuang kemerdekaan itu bicara. Dalam undang undang tersebut sudah diberi batasan yang tegas bahwa yang disebut WNI aseli adalah WNI yang sejak lahir sudah menyandang kewarganegaraan Indonesia. Tetapi pencatatan sipil yang membeda-bedakan kelahiran anak dengan sekat primordial, sepengetahuan saya tetap berlangsung. Apakah ketentuan tentang kewarganegaraan dalam UUD 45 merupakan suatu “Kecelakaan Sejarah” ? Kita tidak perlu mempersoalkan itu, yang penting pemerintah segera membuat langkah-langkah strategis untuk menghilangkan sifat-sifat diskriminatif dalam peraturan/perundang-undangan, seperti yang tampak pada ketentuan dalam catatan sipil tersebut diatas.

Salam

Daradjadi

Sebentar lagi anggota DPR baru akan dilantik dengan biaya sebelas milyard rupiah. Ada baiknya kita mengenang sejarah parlemen Indonesia.  UUD 45 yang diundangkan pada tanggal 18 Agustus 1945, dalam aturan peralihan menyebutkan perluanya pembentukan suatu Badan yang menyelenggarakan kegiatan pemerintah sehari hari. Lembaga yang dimaksud ialah Komite Nasional Indonesia yang berkedudukan di daerah dan pusat ( KNIP ). Komite ini diresmikan pada tanggal 29 Agustus 1945, dan menyelenggarakan sidangnya yang pertama pada bulan Oktober 1945. Dalam sidang pertama tersebut diputuskan dibentuknya Badan Pekerja KNIP. Kemudian hari, para anggota KNIP yang berasal dari keanggotaan berbagai partai/organisasi mengusulkan supaya BPKNIP diberi wewenang melaksanakan tugas legislatif.
Mr Sartono, mantan pengurus Perhimpunan Indonesia di Belanda, salah seorang pendiri PNI tahun 1927, Pendiri Partindo, mantan Ketua Gerindo, ex anggota Panitya perancang UUD dlm BPUPKI, ditunjuk sebagai ketua Panitya III dalam BPKNIP. Sartono juga terkenal sebagai penyusun Manifesto 1925, suatu arah perjuangan kemerdekaan Perhimpunan Indonesia di Belanda, yang sedikit banyak mengilhami Sumpah Pemuda 1928. Ia tampil sebagai pembela , waktu Sukarno diadili oleh Pengadilan kolonial di Bandung. Saat dimana Sukarno membuat pledoinya dengan judul yg terkenal ” Indonesia Menggugat “. Ia berhasil menggagalkan dengan mengesankan, disaat polisi Belanda mau membubarkan Kongres Pemuda yang berlangsung di Kramat Raya 106, tanggal 28 oktober 1928.  Sartono adalah sahabat Sukarno maupun Hatta. Dan sebagaimana keduanya, hidup Sartono seluruhnya diabdikan pada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Semenjak pengangkatannya sebagai anggota KNIP, karier pria kelahiran desa kecil Baturetno Wonogiri, tanggal 5 Agustus 1900, terus berada di Badan legislatif. Tahun 1950, ia terpilih menjadi ketua Parlemen RIS. Tahun 1950-1955 sebagai ketua DPR Sementara. Th 1956 Ia terpilih kembali sebagai Ketua DPR hasil Pemilu. Tahun 1960 DPR hasil Pemilu dibubarkan oleh Presiden Sukarno. Sartono diangkat sebagai anggota/Ketua DPRGR. Ia menulis surat pada Sukarno yang isinya menolak pengangkatannya. ” Melakukan suatu hal yang bertentangan dengan prinsip demokrasi, sangat bertentangan dengan hati nuraini saya ” Katanya.
Semoga semangat Sartono selalu bersemayam di hati para anggota DPR- RI. Semoga !!!
Salam
Daradjadi    

KORUPSI UNTUK KAMPANYE PEMILU

February 16, 2009

Pemilu   di Republik ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 1955. Jumlah partai pengikut Pemilu lebih dari 30 partai. Mulai dari partai kelompok perorangan seperti Sarsadi. dkk.yang berlambang gambar kendi, sampai dengan partai yang bermassa besar seperti PNI yang berlambang kepala banteng dalam segitiga, dan Masyumi dengan bulan sabitnya.

Pada masa itu belum ada televisi. Kampanye diadakan hanya dengan cara memasang tanda gambar partai ditempat tempat strategis, ceramah. dan pawai. Walaupun biaya kampanye tidak sebesar sekarang, namun partai partai tersebut tetap memerlukan adanya dana kampanye. Dana tersebut kebanyakan dikumpulkan dari para anggauta dan simpatisan partai yang sangat bersemangat memenangkan partai mereka masing masing. Namun ada satu partai yang bernama PRN, yang menurut ingatan saya berlambang padi dan kapas, menempuh jalan korupsi untuk meraih dana partai.

Kisah ini  diawali pada tahun 1954. Portofolio Menteri Kehakiman saat itu dijabat oleh Mr Djodi Gondokoesoemo , yang juga  bertindak sebagai pimpinan Partai Rakyat Nasional ( PRN ). Kementerian Kehakiman membawahi jawatan Immigrasi , yang wewenangnya  antara lain  memberikan visa bagi orang asing yang akan tinggal di Indonesia. Pada suatu waktu Mr Djody telah memberikan perpanjangan visa kepada seorang yang bernama Bong Kim Tjong.

Seorang anggauta parlemen dari partai PSI dibawah kepemimpinan Sutan Syahrir yang bernama Tan Po Goean , curiga kalau pemberian visa tersebut tidak wajar. Ia melakukan investigasi dengan cara membeli informasi dan bukti bukti yang terkait dengan kasus tersebut. Ia sempat mengeluarkan uang Rp 6000 untuk mendapatkan bukti bukti tersebut. Ia kegirangan waktu menemukan selembar kuitansi sebesar Rp 20.000 yang ditanda tangani oleh Djodi di berkas permohonan visa Bong Kim Tjong. Kuitansi menyebutkan kalau uang tersebut sebagai sokongan pemohon visa untuk PRN.

Merasa kuat dengan bukti bukti tersebut, Tan Po Goean yang juga mantan menteri di kabinet Syahrir, langsung melapor pada Jaksa Agung Suprapto. (Patungnya sekarang berdiri didepan kantor Kejaksaan Agung). Iapun memberikan perintah menangkap Mr Djodi untuk diadili. Dalam persidangan terungkap bahwa memang PRN menghimpun dana melalui cara penyalah gunaan pemberian visa terutama untuk orang Tionghoa dan India. Tetapi terdakwa menyangkal kalau uang tersebut untuk dia pribadi.

Pengadilan memvonnis Mr Djodi dengan pidana satu tahun penjara. Terdakwa mengajukan grasi kepada Presiden Sukarno, dan hukumannya dikurangi enam bulan. Konon Wakil Presiden Mohammad Hatta kurang setuju dengan pemberian grasi tersebut. Barangkali beliau beranggapan bahwa perbuatan korupsi merupakan perbuatan yang tidak layak diampuni.

Penulis : Daradjadi

Sumber : Penelitian Google dan Ingatan masa lalu

Akhir akhir ini para mahasiswa melancarkan demo besar besaran menentang undang undang BPH. Mereka kawatir dengan berlakunya undang undang tersebut beaya pendidikan menjadi mahal. Anak anak cerdas dan berbakat mungkin akan dropped out gara gara tidak punya beaya. Dipihak lain pemerintah dan DPR berpendapat bahwa Badan pendidikan perlu dikelola secara sehat sehingga mutu pendidikan dapat terus ditingkatkan sesuai dengan tuntutan jaman.
Mahalnya beaya pendidikan sekarang ini membuat para kakek dan nenek yang masih hidup bernostalgia pada masa masa  awal tahun 1950-an. Masa tersebut merupakan sorganya para pelajar dan mahasiswa dipandang dari sudut pembeayaan. Semua murid SD negeri tidak perlu membayar uang sekolah. Setelah lulus dari SD ,mereka yang tidak mampu dan ingin segera mendapat penghasilan dapat meneruskan ke Sekolah Guru B ( SGB ). Selama belajar 4 tahun di sekolah tersebut mereka dapat tunjangan yang mencukupi. Lulusan SMP dapat memilih berbagai macam pendidikan yang mendapat tunjangan. Antara lain Pendidikan Aspiran Kadet AL, Sekolah Guru A ( SGA ) dll Bagi mereka yang lulus SMA hampir semua pendidikan pasca SLTA menyediakan bea siswa bagi seluruh siswanya. Bea siswa tersebut dikenal dengan istilah ” Ikatan Dinas ” . Artinya mereka yang telah menerima bea siswa dimaksud diharuskan bekerja pada instansi yg terkait untuk beberapa waktu. Lembaga pendidikan yang menyediakan ikatan dinas tsb antara lain: Akademi Dinas Luar Negeri, Akademi Imigrasi, Akademi Penilik Kesehatan . dll.
Bila  seorang lulusan SLTA  ingin meneruskan ke Universitas maka fakultas fakultas seperti : Hukum, Ekonomi, Tehnik, Parmasi dll juga menyediakan ikatan dinas. Kelak lulusannya akan dipekerjakan di  lembaga pemerintahan yg sesuai dg bidang pengetahuannya, seperti :Kejaksaan, bagi seorang Sarjana Hukum, Dep Perdagangan, Bank Indonesia untuk sarjana Ekonomi,  Para Ir akan ditempatkan di Dep Pekerjaan Umum,  Para sarjana Farmasi di Departemen Kesehatan dll. Bagi mereka yang ingin belajar ke luar negeri tersedia program program pendidikan di Luar Negeri antara lain program Colombo Plan untuk mereka yg berminat belajar di negara negara barat seperti Inggris dll. Sedangkan  yg tertarik belajar ke Jepang, pemerintah dapat menyediakan bea siswa melalui program Pampasan perang.
Akibat adanya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan  gratis, maka banyak anak anak orang miskin dapat mencapai tingkat pendidikan yg tinggi baik didalam maupun luar negeri. Suatu hal yang mungkin  sulit dicapai oleh mereka yang hidup dalam kemiskinan dijaman sekarang. Kita tahu bahwa suatu masa lalu tidak akan kembali. Namun cita cita untuk memberi kesempatan yang  sama dibidang pendidikan kepada semua anak bangsa merupakan cita cita sejak masa lalu. Cita cita tsb merupakan cita cita para pendiri bangsa ini. Dan tetap relevan sepanjang masa.
Salam
Daradjadi

Pada bulan Oktober 1740 terjadi kerusuhan rasialis di Batavia. Sekitar 10.000 orang China dibantai oleh VOC. Alasan Kompeni melakukan hal tersebut karena orang orang China dianggap telah membangkang untuk membayar berbagai pungutan yang mencekik. Di saat ribuan mayat bergelimpangan di sungai sepanjang Kali Besar dan rumah rumah China hangus menjadi abu, di suatu pabrik gula yang terletak di Gandaria terlihat suatu kerumunan massa. Mereka bersenjata seadanya namun mempunyai semangat yang tinggi . Pimpinan gerombolan bersenjata tersebut oleh sumber dan arsip Kompeni dikenal dengan nama Khe Panjang. Sebutan ” Khe ” menunjukkan bahwa orang tersebut belum lama tiba dari Tiongkok.

Dari Gandaria pasukan bergerak ke Tanah Abang dan melakukan serangan ke pos pos Belanda. Namun pasukan pemberontak China tersebut dapat dihalau oleh VOC hingga lari kearah Bekasi dan Kerawang. Walau terus dikejar oleh serdadu Kompeni jumlah mereka makin bertambah karena banyaknya orang yang menggabungkan diri. Akhirnya pada paroh pertama tahun 1741 pasukan pemberontak tersebut memasuki wilayah kerajaan Mataram yang beribukota di Kartasura .Keratonnya  terletak 10 km dari kota Solo sekarang. Kerajaan yang wilayahnya meliputi Jawa bagian Tengah dan Timur tersebut diperintah oleh  seorang raja yang bernama Paku Buwono II ( PB II ). Raja beserta rakyat Mataram menyambut baik kedatangan pasukan China ini. Orang orang Jawa menyebut pemimpin laskar China ini dengan nama Kapitan Sepanjang.

Rakyat Mataram dan rajanya sebetulnya sudah lama ingin lepas dari kekuasaan VOC, namun belum berani melakukan tindakan apapun karena merasa belum mempunyai kekuatan yang meyakinkan. PB II melihat kedatangan pasukan China merupakan kesempatan yang baik untuk melaksanakan niatnya . Sang raja melakukan koalisi dengan Sepanjang. Pada tanggal 1 Agustus 1742 Benteng VOC di Kartasura diserbu pasukan gabungan China-Mataram. Kapten Van Plasen, komandan Benteng tewas dieksekusi. para serdadu VOC yang hidup dijadikan tawanan. Pasukan China- Mataram memperluas serangan ke  segala penjuru , mulai dari  Tegal , Lasem sampai Gresik . Karena kewalahan menghadapi serangan serangan tersebut, maka VOC mendatangkan pasukan bantuan dari Batavia. Berkat bantuan pasukan dan persenjataan yang tiba, maka laskar China dibawah Sepanjang dan pasukan Mataram dibawah pimpinan Bupati Grobogan Martapura mengalami kekalahan di desa Kaligawe Semarang.

Merasa diatas angin , Kompeni memberikan ultimatum kepada PB II. Raja yang bertahta di Kartasura tersebut disuruh milih. Kalau berbalik ikut Kompeni maka kepadanya akan diberi pengampunan dan dijamin kelangsungan kedudukannya sebagai raja. Sedangkan kalau tetap membantu pasukan China maka beliau akan dihabisi. Sang raja PB II memilih berbalik dan membantu VOC melawan laskar China. Patih kerajaan yang bernama Notokusumo dan para bupati menentang putusan rajanya. Notokusumo ditangkap Belanda dibuang ke Sri Langka. Para Bupati beserta rakyatnya tetap meneruskan perjuangan mereka melawan Belanda . Pada pertengahan tahun 1742 diadakan suatu pertemuan yang dihadiri antara  lain oleh Bupati Martapura, Bupati Mangunoneng, Kapitan Sepanjang dan Panglima laskar China Singseh ( Tan Sin Ko ). Mereka bersepakat mengangkat Rd Mas Garendi cucu Amangkurat III sebagai raja Mataram . Raja Baru tersebut selanjutnya bergelar Amangkurat V dan terkenal dengan sebutan Sunan Kuning.

Pasukan Sunan Kuning yang terdiri dari para bupati yang tetap memberontak pada kekuasaan VOC bersama dengan laskar China akhirnya bergerak menuju Kartasura. Ibukota Mataram jatuh dalam kekuasaan mereka. PB II lari ke Ponorogo. Raden Mas Said , cucu Amangkurat IV yang juga mengobarkan perlawanan terhadap VOC diangkat oleh Sunan Kuning sebagai panglima perangnya. Segera setelah Kartasura jatuh, Sunan Kuning ingin mewujudkan cita citanya untuk mengusir VOC.  Api peperangan yang dahsyat berkobar di seluruh Jawa Tengah dan Timur.Beliau mengirim R.M. Said bersama pasukan China menyerang pasukan VOC dibawah Kapten Geritt Mom yang berada di Jepara. Singseh,komandan pasukan China gugur dipenggal kepalanya oleh serdadu VOC di pantai Lasem . Belanda tidak mau meninggalkan kesempatan. Mereka terus mendesak pasukan Sunan Kuning dari arah Semarang. Sedangkan dari arah timur Keraton Kartasura diserang oleh tentara PB II dan pasukan Madura. Akhirnya pada bulan Desember 1742 Keraton Kartasura kembali dikuasai PB II yang dibantu Kompeni.

Sunan Kuning bersama Raden Mas Said dan Sepanjang meninggalkan keraton dan membangun pertahanan di desa Randulawang yang terletak disekitar Candi Prambanan. Dari tempat tersebut pasukan gabungan China-Mataram melancarkan serangan gerilya ke pos pos pertahanan Belanda. Akirnya Belanda mengerahkan semua kekuatannya untuk menghancurkan Randulawang. Sunan Kuning bersama panglima R.M Said dan Sepanjang bergerak menuju kearah timur bersama sisa sisa pasukannya.

Sampai di desa Caruban Madiun, Sepanjang bersama Sunan Kuning berniat untuk menuju ke Pasuruan guna merekrut orang orang China yang berada disana. Sampai di sekitar Surabaya ,Sunan Kuning- Sepanjang bergabung dengan pasukan Mas Brahim ,cucu Untung Surapati yang bergerilya di sekitar Surabaya dan Pasuruan. Sedangkan R.M Said  tetap memimpin gerilya di sekitar Jawa Tengah. VOC berhasil menangkap Sunan Kuning di Surabaya, dan diasingkan ke Sri Langka. Sedang Sepanjang berhasil lolos dan melarikan diri kearah timur. Sejak itu Sepanjang lenyap bagai ditelan bumi. Kompeni tidak pernah berhasil menangkap atau membunuhnya. Dia terakhir tampak dilihat orang pada tahun 1758 di Bali.

Perang Sepanjang yang berlangsung selama tiga tahun merupakan perang yang terbesar yang harus di hadapi VOC di bumi Nusantara. Cakupan geografisnya meliputi seluruh Jawa. Dimulai dari Batavia dan berakir di ujung timur Jawa. R.M Said kelak pada tahun 1757 mengadakan perjanjian dengan Paku Buwono III . Beliau memimpin suatu praja dengan gelar Mangkunegoro I. Atas jasa kepahlawanannya dalam melawan penjajahan, pada tahun 1978 Pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional Kemerdekaan RI kepada almarhum.

Kepada para keturunan Laskar Sepanjang  kami mengucapkan ” Gong Xi Fa Cai ” Selamat Tahun Baru Imlek 2560. Semoga jiwa kepahlawanan  dan pengorbanan Sepanjang tetap bersemayam di hati anda semua.

Sumber : “Perang Sepanjang 1740 – 1743, Tionghoa- Jawa lawan VOC ” oleh : Daradjadi

 

                                                                 

Raja Amangkurat IV , raja yang memerintah kerajaan Mataram  yang beribukota di Kartasura wafat pada tahun 1726. Beliau meninggalkan beberapa orang putera. Putera pertama   lahir bukan dari seorang permaisuri . Ia bernama Pangeran Mangkunegoro. Adapun putera yang menggantikan Sang Raja adalah putera yang dilahirkan oleh permaisuri dan bergelar Pakubuwono II. Walaupun tidak terpilih menjadi raja, Pangeran Mangkunegoro mempunyai pengaruh yang besar di lingkungan rakyatnya. Ia pernah melakukan perlawanan terhadap VOC bersama Pangeran Purboyo. Paman yang merupakan bapak angkatnya.

Pada suatu hari ia menonton pertunjukan tari bedaya di istana. Hatinya terpikat pada seorang penari yang bernama Wirasmara. Seorang keturunan China. Selang beberapa lama ia bertutur pada patih kerajaan yang bernama Danurejo, bahwa ia ingin mempersunting si penari tersebut menjadi isterinya. Sebagai pengganti isterinya yang telah meninggal . Wirasmara sebetulnya merupakan selir dari raja Pakubuwono II tetapi hal ini tidak diketahui oleh sang Pangeran. Mendengar pernyataan Pangeran Mangkunegoro tersebut, Danurejo melaporkan pada ibu suri Ratu Amangkurat, ibu kandung sang raja. Ratu Amangkurat dan Danurejo mempunyai pandangan politik yang sama, yaitu ingin mengenyahkan Pangeran Mangkunegoro. Keduanya beranggapan Mangkunegoro mempunyai potensi yang besar untuk melakukan perebutan kekuasaan.

Ratu Amangkurat menyampaikan peristiwa perselingkuhan ini pada sang raja. Beliau sangat marah dan menyuruh Danurejo agar Pangeran Mangkunegoro diserahkan pada Kompeni dengan tuduhan akan membangun kembali perlawanannya terhadap Kompeni. Danurejo dengan sigap menyeret Wirasmara ke rumahnya dan menikam si penari yang malang tersebut sampai tewas. Setelah itu ia merantai Pangeran Mangkunegoro dan menyerahkannya ke benteng VOC . Pangeran Mangkunegoro oleh VOC dibuang ke Afrika Selatan dan meninggal disana.

Sementara itu Ratu Amangkurat mempunyai seorang guru yang bernama Raden Surowijoyo. Hampir setiap malam ia mengajar sang ratu tentang sejarah dan ketatanegaraan. Guru yang sering sampai larut malam berada di kediaman ratu Amangkurat menimbulkan gossip yang tidak sedap. Maklum usia Ratu Amangkurat pada waktu itu masih tergolong belum tua. Gosip ini sampai ke telinga Pakubuwono II. Beliau yang sangat menjunjung tinggi moralitas agama sangat terganggu dengan gosip ini. Akhirnya sang raja menyuruh Patih Danurejo menghabisi Raden Surowijoyo. Suatu pagi masyarakat Kartasura dikejutkan adanya mayat Raden Surowijoyo yang tergeletak di alun alun dengan keris yang masih tertancap. Pada waktu keris tersebut dicabut oleh petugas istana, patih Danurejo buru buru datang untuk mengambil kerisnya. Ratu Amangkuratpun paham siapa pembunuh orang yang disayanginya. Persekutuan diantara keduanya pecah.

Sejak itu ratu Amangkurat selalu mencari cari kesalahan Danurejo dan melaporkannya pada raja. Pakubuwono II terkenal sangat dekat dengan ibundanya. Hampir semua nasehat tentang jalannya pemerintahan diikuti dengan patuh. Akhirnya pada tahun 1733 sang raja Pakubuwono II minta pertolongan Kompeni agar menangkap patih Danurejo pada saat pergi ke Semarang. Oleh VOC patih Danurejo dibuang ke Afrika Selatan sampai meninggal. Tempat pembuangan yang sama dengan musuhnya yaitu Pangeran Mangkunegoro.

penulis : Daradjadi, sumber :Perang Sepanjang 1740-1743, Tionghoa-Jawa lawan VOC

PERMAINAN JAMURAN

December 8, 2008

Hampir semua permainan memberi pengaruh kejiwaan pada anak anak. Contohnya : Permainan Jamuran. Dimasa lalu dikala orang belum mengenal TV dan video game, di daerah Surakarta anak anak kecil sering melakukan permainan tersebut. Permainan diawali dengan tampilnya sekitar 10 anak atau lebih yang bergandeng tangan membentuk lingkaran. Ditengah lingkaran berdiri seorang anak. Lingkaran tersebut bergerak memutar sambil melantunkan tembang ” Jamuran “, dengan tetap dalam posisi berpegangan tangan. Pada waktu tembang tersebut berakhir , anak yang berada ditengah lingkaran akan ditanya : Milih jamur apa ?. Umpama si anak menjawab : Jamur jambu ! maka semua peserta akan berhamburan menyentuh pohon jambu yang berada didekat mereka. Selesai menyentuh pohon tersebut, anak anakpun bergegas kembali ketempat permainan untuk bergandeng tangan dan membentuk lingkaran. Anak terakhir yang tidak mendapatkan gandengan akan mendapat hukuman dengan cara disuruh berdiri di tengah lingkaran. Babak baru permainan dimulai lagi seperti diatas.

Permainan ini mengajarkan agar anak anak tidak bersifat eksklusif dan diskriminatif. Mereka yang terlalu memilih teman gandengan akan akan terlambat membentuk mata rantai. Akibatnya anak tersebut akan dikucilkan dan harus berdiri ditengah lingkaran sendirian. Jamuran biasanya dimainkan disaat bulan purnama. Sambil melantunkan tembang anak anak menengadah ke langit memandang ke angkasa raya. Secara tidak langsung mereka diajari untuk meresapi kebesaran Tuhan. Selain juga ditumbuhkannya rasa kesadaran untuk saling mengasihi dan rukun terhadap sesamanya. Tetapi jaman harus berobah. Permainan jamuran secara perlahan menghilang. Jamuran menghilang untuk memberi kesempatan video game muncul dengan segala hiruk pikuknya. Anak anak tidak lagi mengagumi indahnya angkasa raya. Merekapun jarang bergandeng tangan dengan teman temannya.