Raja Amangkurat IV , raja yang memerintah kerajaan Mataram  yang beribukota di Kartasura wafat pada tahun 1726. Beliau meninggalkan beberapa orang putera. Putera pertama   lahir bukan dari seorang permaisuri . Ia bernama Pangeran Mangkunegoro. Adapun putera yang menggantikan Sang Raja adalah putera yang dilahirkan oleh permaisuri dan bergelar Pakubuwono II. Walaupun tidak terpilih menjadi raja, Pangeran Mangkunegoro mempunyai pengaruh yang besar di lingkungan rakyatnya. Ia pernah melakukan perlawanan terhadap VOC bersama Pangeran Purboyo. Paman yang merupakan bapak angkatnya.

Pada suatu hari ia menonton pertunjukan tari bedaya di istana. Hatinya terpikat pada seorang penari yang bernama Wirasmara. Seorang keturunan China. Selang beberapa lama ia bertutur pada patih kerajaan yang bernama Danurejo, bahwa ia ingin mempersunting si penari tersebut menjadi isterinya. Sebagai pengganti isterinya yang telah meninggal . Wirasmara sebetulnya merupakan selir dari raja Pakubuwono II tetapi hal ini tidak diketahui oleh sang Pangeran. Mendengar pernyataan Pangeran Mangkunegoro tersebut, Danurejo melaporkan pada ibu suri Ratu Amangkurat, ibu kandung sang raja. Ratu Amangkurat dan Danurejo mempunyai pandangan politik yang sama, yaitu ingin mengenyahkan Pangeran Mangkunegoro. Keduanya beranggapan Mangkunegoro mempunyai potensi yang besar untuk melakukan perebutan kekuasaan.

Ratu Amangkurat menyampaikan peristiwa perselingkuhan ini pada sang raja. Beliau sangat marah dan menyuruh Danurejo agar Pangeran Mangkunegoro diserahkan pada Kompeni dengan tuduhan akan membangun kembali perlawanannya terhadap Kompeni. Danurejo dengan sigap menyeret Wirasmara ke rumahnya dan menikam si penari yang malang tersebut sampai tewas. Setelah itu ia merantai Pangeran Mangkunegoro dan menyerahkannya ke benteng VOC . Pangeran Mangkunegoro oleh VOC dibuang ke Afrika Selatan dan meninggal disana.

Sementara itu Ratu Amangkurat mempunyai seorang guru yang bernama Raden Surowijoyo. Hampir setiap malam ia mengajar sang ratu tentang sejarah dan ketatanegaraan. Guru yang sering sampai larut malam berada di kediaman ratu Amangkurat menimbulkan gossip yang tidak sedap. Maklum usia Ratu Amangkurat pada waktu itu masih tergolong belum tua. Gosip ini sampai ke telinga Pakubuwono II. Beliau yang sangat menjunjung tinggi moralitas agama sangat terganggu dengan gosip ini. Akhirnya sang raja menyuruh Patih Danurejo menghabisi Raden Surowijoyo. Suatu pagi masyarakat Kartasura dikejutkan adanya mayat Raden Surowijoyo yang tergeletak di alun alun dengan keris yang masih tertancap. Pada waktu keris tersebut dicabut oleh petugas istana, patih Danurejo buru buru datang untuk mengambil kerisnya. Ratu Amangkuratpun paham siapa pembunuh orang yang disayanginya. Persekutuan diantara keduanya pecah.

Sejak itu ratu Amangkurat selalu mencari cari kesalahan Danurejo dan melaporkannya pada raja. Pakubuwono II terkenal sangat dekat dengan ibundanya. Hampir semua nasehat tentang jalannya pemerintahan diikuti dengan patuh. Akhirnya pada tahun 1733 sang raja Pakubuwono II minta pertolongan Kompeni agar menangkap patih Danurejo pada saat pergi ke Semarang. Oleh VOC patih Danurejo dibuang ke Afrika Selatan sampai meninggal. Tempat pembuangan yang sama dengan musuhnya yaitu Pangeran Mangkunegoro.

penulis : Daradjadi, sumber :Perang Sepanjang 1740-1743, Tionghoa-Jawa lawan VOC

Advertisements

PERMAINAN JAMURAN

December 8, 2008

Hampir semua permainan memberi pengaruh kejiwaan pada anak anak. Contohnya : Permainan Jamuran. Dimasa lalu dikala orang belum mengenal TV dan video game, di daerah Surakarta anak anak kecil sering melakukan permainan tersebut. Permainan diawali dengan tampilnya sekitar 10 anak atau lebih yang bergandeng tangan membentuk lingkaran. Ditengah lingkaran berdiri seorang anak. Lingkaran tersebut bergerak memutar sambil melantunkan tembang ” Jamuran “, dengan tetap dalam posisi berpegangan tangan. Pada waktu tembang tersebut berakhir , anak yang berada ditengah lingkaran akan ditanya : Milih jamur apa ?. Umpama si anak menjawab : Jamur jambu ! maka semua peserta akan berhamburan menyentuh pohon jambu yang berada didekat mereka. Selesai menyentuh pohon tersebut, anak anakpun bergegas kembali ketempat permainan untuk bergandeng tangan dan membentuk lingkaran. Anak terakhir yang tidak mendapatkan gandengan akan mendapat hukuman dengan cara disuruh berdiri di tengah lingkaran. Babak baru permainan dimulai lagi seperti diatas.

Permainan ini mengajarkan agar anak anak tidak bersifat eksklusif dan diskriminatif. Mereka yang terlalu memilih teman gandengan akan akan terlambat membentuk mata rantai. Akibatnya anak tersebut akan dikucilkan dan harus berdiri ditengah lingkaran sendirian. Jamuran biasanya dimainkan disaat bulan purnama. Sambil melantunkan tembang anak anak menengadah ke langit memandang ke angkasa raya. Secara tidak langsung mereka diajari untuk meresapi kebesaran Tuhan. Selain juga ditumbuhkannya rasa kesadaran untuk saling mengasihi dan rukun terhadap sesamanya. Tetapi jaman harus berobah. Permainan jamuran secara perlahan menghilang. Jamuran menghilang untuk memberi kesempatan video game muncul dengan segala hiruk pikuknya. Anak anak tidak lagi mengagumi indahnya angkasa raya. Merekapun jarang bergandeng tangan dengan teman temannya.