Sebentar lagi anggota DPR baru akan dilantik dengan biaya sebelas milyard rupiah. Ada baiknya kita mengenang sejarah parlemen Indonesia.  UUD 45 yang diundangkan pada tanggal 18 Agustus 1945, dalam aturan peralihan menyebutkan perluanya pembentukan suatu Badan yang menyelenggarakan kegiatan pemerintah sehari hari. Lembaga yang dimaksud ialah Komite Nasional Indonesia yang berkedudukan di daerah dan pusat ( KNIP ). Komite ini diresmikan pada tanggal 29 Agustus 1945, dan menyelenggarakan sidangnya yang pertama pada bulan Oktober 1945. Dalam sidang pertama tersebut diputuskan dibentuknya Badan Pekerja KNIP. Kemudian hari, para anggota KNIP yang berasal dari keanggotaan berbagai partai/organisasi mengusulkan supaya BPKNIP diberi wewenang melaksanakan tugas legislatif.
Mr Sartono, mantan pengurus Perhimpunan Indonesia di Belanda, salah seorang pendiri PNI tahun 1927, Pendiri Partindo, mantan Ketua Gerindo, ex anggota Panitya perancang UUD dlm BPUPKI, ditunjuk sebagai ketua Panitya III dalam BPKNIP. Sartono juga terkenal sebagai penyusun Manifesto 1925, suatu arah perjuangan kemerdekaan Perhimpunan Indonesia di Belanda, yang sedikit banyak mengilhami Sumpah Pemuda 1928. Ia tampil sebagai pembela , waktu Sukarno diadili oleh Pengadilan kolonial di Bandung. Saat dimana Sukarno membuat pledoinya dengan judul yg terkenal ” Indonesia Menggugat “. Ia berhasil menggagalkan dengan mengesankan, disaat polisi Belanda mau membubarkan Kongres Pemuda yang berlangsung di Kramat Raya 106, tanggal 28 oktober 1928.  Sartono adalah sahabat Sukarno maupun Hatta. Dan sebagaimana keduanya, hidup Sartono seluruhnya diabdikan pada perjuangan kemerdekaan Indonesia. Semenjak pengangkatannya sebagai anggota KNIP, karier pria kelahiran desa kecil Baturetno Wonogiri, tanggal 5 Agustus 1900, terus berada di Badan legislatif. Tahun 1950, ia terpilih menjadi ketua Parlemen RIS. Tahun 1950-1955 sebagai ketua DPR Sementara. Th 1956 Ia terpilih kembali sebagai Ketua DPR hasil Pemilu. Tahun 1960 DPR hasil Pemilu dibubarkan oleh Presiden Sukarno. Sartono diangkat sebagai anggota/Ketua DPRGR. Ia menulis surat pada Sukarno yang isinya menolak pengangkatannya. ” Melakukan suatu hal yang bertentangan dengan prinsip demokrasi, sangat bertentangan dengan hati nuraini saya ” Katanya.
Semoga semangat Sartono selalu bersemayam di hati para anggota DPR- RI. Semoga !!!
Salam
Daradjadi