Akhir akhir ini para mahasiswa melancarkan demo besar besaran menentang undang undang BPH. Mereka kawatir dengan berlakunya undang undang tersebut beaya pendidikan menjadi mahal. Anak anak cerdas dan berbakat mungkin akan dropped out gara gara tidak punya beaya. Dipihak lain pemerintah dan DPR berpendapat bahwa Badan pendidikan perlu dikelola secara sehat sehingga mutu pendidikan dapat terus ditingkatkan sesuai dengan tuntutan jaman.
Mahalnya beaya pendidikan sekarang ini membuat para kakek dan nenek yang masih hidup bernostalgia pada masa masa  awal tahun 1950-an. Masa tersebut merupakan sorganya para pelajar dan mahasiswa dipandang dari sudut pembeayaan. Semua murid SD negeri tidak perlu membayar uang sekolah. Setelah lulus dari SD ,mereka yang tidak mampu dan ingin segera mendapat penghasilan dapat meneruskan ke Sekolah Guru B ( SGB ). Selama belajar 4 tahun di sekolah tersebut mereka dapat tunjangan yang mencukupi. Lulusan SMP dapat memilih berbagai macam pendidikan yang mendapat tunjangan. Antara lain Pendidikan Aspiran Kadet AL, Sekolah Guru A ( SGA ) dll Bagi mereka yang lulus SMA hampir semua pendidikan pasca SLTA menyediakan bea siswa bagi seluruh siswanya. Bea siswa tersebut dikenal dengan istilah ” Ikatan Dinas ” . Artinya mereka yang telah menerima bea siswa dimaksud diharuskan bekerja pada instansi yg terkait untuk beberapa waktu. Lembaga pendidikan yang menyediakan ikatan dinas tsb antara lain: Akademi Dinas Luar Negeri, Akademi Imigrasi, Akademi Penilik Kesehatan . dll.
Bila  seorang lulusan SLTA  ingin meneruskan ke Universitas maka fakultas fakultas seperti : Hukum, Ekonomi, Tehnik, Parmasi dll juga menyediakan ikatan dinas. Kelak lulusannya akan dipekerjakan di  lembaga pemerintahan yg sesuai dg bidang pengetahuannya, seperti :Kejaksaan, bagi seorang Sarjana Hukum, Dep Perdagangan, Bank Indonesia untuk sarjana Ekonomi,  Para Ir akan ditempatkan di Dep Pekerjaan Umum,  Para sarjana Farmasi di Departemen Kesehatan dll. Bagi mereka yang ingin belajar ke luar negeri tersedia program program pendidikan di Luar Negeri antara lain program Colombo Plan untuk mereka yg berminat belajar di negara negara barat seperti Inggris dll. Sedangkan  yg tertarik belajar ke Jepang, pemerintah dapat menyediakan bea siswa melalui program Pampasan perang.
Akibat adanya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan  gratis, maka banyak anak anak orang miskin dapat mencapai tingkat pendidikan yg tinggi baik didalam maupun luar negeri. Suatu hal yang mungkin  sulit dicapai oleh mereka yang hidup dalam kemiskinan dijaman sekarang. Kita tahu bahwa suatu masa lalu tidak akan kembali. Namun cita cita untuk memberi kesempatan yang  sama dibidang pendidikan kepada semua anak bangsa merupakan cita cita sejak masa lalu. Cita cita tsb merupakan cita cita para pendiri bangsa ini. Dan tetap relevan sepanjang masa.
Salam
Daradjadi
Advertisements

                                                                 

Raja Amangkurat IV , raja yang memerintah kerajaan Mataram  yang beribukota di Kartasura wafat pada tahun 1726. Beliau meninggalkan beberapa orang putera. Putera pertama   lahir bukan dari seorang permaisuri . Ia bernama Pangeran Mangkunegoro. Adapun putera yang menggantikan Sang Raja adalah putera yang dilahirkan oleh permaisuri dan bergelar Pakubuwono II. Walaupun tidak terpilih menjadi raja, Pangeran Mangkunegoro mempunyai pengaruh yang besar di lingkungan rakyatnya. Ia pernah melakukan perlawanan terhadap VOC bersama Pangeran Purboyo. Paman yang merupakan bapak angkatnya.

Pada suatu hari ia menonton pertunjukan tari bedaya di istana. Hatinya terpikat pada seorang penari yang bernama Wirasmara. Seorang keturunan China. Selang beberapa lama ia bertutur pada patih kerajaan yang bernama Danurejo, bahwa ia ingin mempersunting si penari tersebut menjadi isterinya. Sebagai pengganti isterinya yang telah meninggal . Wirasmara sebetulnya merupakan selir dari raja Pakubuwono II tetapi hal ini tidak diketahui oleh sang Pangeran. Mendengar pernyataan Pangeran Mangkunegoro tersebut, Danurejo melaporkan pada ibu suri Ratu Amangkurat, ibu kandung sang raja. Ratu Amangkurat dan Danurejo mempunyai pandangan politik yang sama, yaitu ingin mengenyahkan Pangeran Mangkunegoro. Keduanya beranggapan Mangkunegoro mempunyai potensi yang besar untuk melakukan perebutan kekuasaan.

Ratu Amangkurat menyampaikan peristiwa perselingkuhan ini pada sang raja. Beliau sangat marah dan menyuruh Danurejo agar Pangeran Mangkunegoro diserahkan pada Kompeni dengan tuduhan akan membangun kembali perlawanannya terhadap Kompeni. Danurejo dengan sigap menyeret Wirasmara ke rumahnya dan menikam si penari yang malang tersebut sampai tewas. Setelah itu ia merantai Pangeran Mangkunegoro dan menyerahkannya ke benteng VOC . Pangeran Mangkunegoro oleh VOC dibuang ke Afrika Selatan dan meninggal disana.

Sementara itu Ratu Amangkurat mempunyai seorang guru yang bernama Raden Surowijoyo. Hampir setiap malam ia mengajar sang ratu tentang sejarah dan ketatanegaraan. Guru yang sering sampai larut malam berada di kediaman ratu Amangkurat menimbulkan gossip yang tidak sedap. Maklum usia Ratu Amangkurat pada waktu itu masih tergolong belum tua. Gosip ini sampai ke telinga Pakubuwono II. Beliau yang sangat menjunjung tinggi moralitas agama sangat terganggu dengan gosip ini. Akhirnya sang raja menyuruh Patih Danurejo menghabisi Raden Surowijoyo. Suatu pagi masyarakat Kartasura dikejutkan adanya mayat Raden Surowijoyo yang tergeletak di alun alun dengan keris yang masih tertancap. Pada waktu keris tersebut dicabut oleh petugas istana, patih Danurejo buru buru datang untuk mengambil kerisnya. Ratu Amangkuratpun paham siapa pembunuh orang yang disayanginya. Persekutuan diantara keduanya pecah.

Sejak itu ratu Amangkurat selalu mencari cari kesalahan Danurejo dan melaporkannya pada raja. Pakubuwono II terkenal sangat dekat dengan ibundanya. Hampir semua nasehat tentang jalannya pemerintahan diikuti dengan patuh. Akhirnya pada tahun 1733 sang raja Pakubuwono II minta pertolongan Kompeni agar menangkap patih Danurejo pada saat pergi ke Semarang. Oleh VOC patih Danurejo dibuang ke Afrika Selatan sampai meninggal. Tempat pembuangan yang sama dengan musuhnya yaitu Pangeran Mangkunegoro.

penulis : Daradjadi, sumber :Perang Sepanjang 1740-1743, Tionghoa-Jawa lawan VOC